Para perampok yang terjaga mulai batuk-batuk, tubuh mereka melemah seiring waktu. Beberapa berusaha berteriak, tetapi suara mereka tercekik. Mereka yang mabuk perlahan-lahan jatuh tertidur.

Saat asap menyelimuti perkemahan, Lynx bergerak cepat. Dengan memanfaatkan kemampuan tembus pandangnya, ia berlari tanpa suara ke sekitar para perampok. Satu per satu, ia menyimpan obor, senjata, dan bahkan kayu bakar para perampok ke dalam cincin penyimpanannya. Api unggun pun padam, meninggalkan kegelapan pekat yang membuat para perampok semakin panik.

"Apa yang terjadi?!" teriak Kronar yang masih tetap bertahan dari rasa kantuk yang menyerang, suaranya memecah keheningan.

"semuanya siaga, " teriak Kronar yang menyadari keanehan yang terjadi, tanpa mengetahui kondisi sebenarnya.

"Senjataku! Mana senjataku?!" teriak salah satu anak buahnya, meraba-raba tanah di sekitarnya.

Kronar yang bingung dengan situasi yang ada segera mencari senjatanya juga, namun tidak di temukan, "siapa yang memindahkan senjataku?" teriaknya marah. karena kegelapan malam, dia tidak bisa melihat sekitarnya.

Didalam kegelapan, lynx menggunakan kemampuan tembus pandangnya untuk melihat keadaan sekitar. dia berlari dan melompat ke berbagai tempat, termasuk memasukkan tali yang mengikat para tahanan dan memasukkan kayu kurungan ke dalam cincin penyimpanan sehingga para penduduk terlepas.

"Tenanglah, kalian aman sekarang," bisik Lynx kepada seorang pria tua yang hampir tak sadarkan diri.

Setelah melepaskan tali dan kurungan, lynx segera mengangkat dan memindahkan mereka dengan gerakan cepat. Sekali angkat, bisa empat hingga enam orang diangkatnya sekaligus. Lynx juga melemparkan pisau terbang ke perampok yang terlihat mendekati para tahanan.

Dalam beberapa menit, seluruh tahanan yang terikat dan terkurung sudah berhasil di selamatkan Lynx. "Tinggal yang di atas jurang," batinnya.

Lynx segera mendekati para tahanan diatas jurang dan memutuskan tali yang menahan tubuh mereka, setelah Lynx memegang mereka lalu membawanya pergi.

Kronar yang marah memerintahkan anak buahnya menghidupkan api lagi, namun Lynx selalu melemparkan benda-benda untuk mematikan api yang mereka buat termasuk mengambil kayu-kayu yang akan di bakar.

Setelah memastikan semua penduduk yang ditangkap sudah dipindahkan menjadi satu di sebuah tempat untuk sementara, Lynx kemudian melanjutkan malam itu juga memindahkan mereka semua ke lokasi yang sudah dia temukan saat menyelidiki situasi.

Saat para tawanan dipindahkan ke tempat aman yang sebelumnya ia siapkan, Lynx berhenti sejenak. Napasnya terengah-engah, keringat membasahi wajahnya, tetapi senyum puas terpancar di bibirnya.

"Semua selesai... untuk malam ini," katanya pelan. Ia berjalan menjauh dari lokasi para perampok, meninggalkan Kronar dan anak buahnya dalam kebingungan total.

Lynx segera meditasi untuk memulihkan kondisi tubuhnya dan bersiap untuk menghadapi Kronar keesokan paginya. "Besok, kita selesaikan semuanya Kronar, aku ingin melihat wajahmu ketika kau sadar bahwa semua tawananmu telah lenyap," batin Lynx dengan tatapan dingin.

Beberapa waktu kemudian, dari tempatnya bermeditasi, Lynx dapat mendengar suara teriakan Kronar yang menggema di kejauhan. Amarah dan kebingungan bercampur menjadi satu dalam jeritan itu. Lynx tersenyum tipis.

"Mereka pasti sudah menyalakan api dan menyadari hadiah kecil yang kutinggalkan," pikirnya. Ia bisa membayangkan wajah Kronar yang merah padam saat menyadari para tahanannya telah lenyap dalam satu malam.

Matahari pagi mulai menembus dedaunan, menciptakan bayangan lembut di sekitar tempat persembunyian Lynx. Di sisi lain, para penduduk yang ia selamatkan mulai terbangun satu per satu, wajah mereka masih menyiratkan kebingungan dan ketakutan.

“Kita… di mana?” tanya seorang lelaki tua dengan suara parau, memegangi lututnya yang gemetar.

“Apakah aku bermimpi? Ataukah… aku sudah mati?” gumam seorang pemuda yang sebelumnya tergantung di atas jurang. Ia menatap sekeliling, matanya mencari jawaban.

Saat itu, Lynx muncul dari balik pepohonan, membawa bungkusan makanan dan air yang telah ia keluarkan dari cincin penyimpanannya. Dengan langkah tenang, ia mendekati kelompok penduduk yang mulai saling berbisik.

“Kalian aman untuk sementara waktu,” katanya, suaranya rendah namun penuh wibawa. Ia menurunkan bungkusan yang dibawanya dan membukanya, memperlihatkan makanan dan minuman di dalamnya. “Makanlah. Kalian pasti sangat lapar.”

Keraguan sempat melintas di wajah beberapa penduduk, tetapi rasa lapar mereka akhirnya mengalahkan rasa takut. Dengan perlahan, mereka mulai menyantap makanan yang disodorkan Lynx. Suasana sunyi, hanya suara kunyahan dan tegukan air yang terdengar.

Seorang perempuan tua dengan mata berkaca-kaca memegang tangan Lynx. “Terima kasih… siapa pun dirimu. Kami pikir kami akan mati di sana.”

Seorang pria muda menatap Lynx penuh rasa ingin tahu. “Apakah kau… Lynx?” tanyanya ragu-ragu. “Orang yang mereka bicarakan? Orang yang membuat Kronar melakukan semua ini?”

Lynx mengangguk singkat, tak ingin membuang banyak waktu untuk menjelaskan. “Ya, aku Lynx. Kalian semua sudah aman di sini untuk sementara. Tapi dengarkan aku baik-baik,” katanya, suaranya berubah tegas. “Kita belum jauh dari sarang para perampok. Kalian harus tetap diam, jangan membuat keributan. Jika mereka menemukan kalian, semua usahaku akan sia-sia.”

Wajah-wajah penduduk yang tadi sedikit tenang kembali tegang. Mereka mengangguk dengan patuh, memahami betapa gentingnya situasi mereka.

Lynx berdiri dan menatap ke arah hutan, di mana sarang perampok Kronar tersembunyi. Ia mengepalkan tangannya, mempersiapkan diri untuk pertempuran berikutnya.

“Aku harus kembali,” katanya sambil memandang penduduk yang kini duduk dalam diam. “Masih ada urusan yang harus kuselesaikan dengan Kronar dan anak buahnya.”

Seorang pemuda berdiri, tubuhnya gemetar namun matanya bersinar dengan keberanian. “Tunggu! Aku ingin ikut. Aku harus membalas dendam untuk keluargaku yang mereka bunuh.”

Lynx menatap pemuda itu tajam. “Tunggulah disini, aku menghargai keberanianmu, tetapi aku sendiri cukup menghadapi mereka semua.”

“Tapi...”

“Dengar,” potong Lynx, nadanya dingin namun penuh ketegasan. “Tugas kalian sekarang adalah bertahan hidup. Biarkan aku yang mengurus mereka. Jika kau benar-benar ingin membalas dendam, buktikan dengan hidup dan melindungi orang-orang di sini.”

Pemuda itu akhirnya terdiam, menunduk dengan rahang yang mengeras. Lynx menoleh kepada semua orang dan berkata, “Tetap di sini. Jangan tinggalkan tempat ini sampai aku kembali. Jika terjadi sesuatu, cari tempat persembunyian lebih dalam di hutan.”

Setelah memastikan para penduduk memahami perintahnya, Ia lalu berbalik, meninggalkan para penduduk dengan tekad yang membara di dadanya.

“Kronar… kita akhiri semuanya sekarang,” pikirnya, tatapan matanya penuh dengan kebencian yang terpendam.

Lynx segera berlari menuju tempat Kronar berada. Dari kejauhan, dia melihat Kronar dan anak buahnya sibuk mencari senjata mereka yang entah bagaimana hilang.

"Bagaimana mungkin semua senjata kita bisa menghilang begitu saja di depan mata kita?!" gerutu salah satu perampok dengan gusar.

"Diam! Cepat cari senjata kalian, lalu kejar para tahanan yang melarikan diri!" bentak Kronar, suaranya penuh amarah.

Tiba-tiba, suara ringan namun penuh sindiran terdengar dari belakang mereka. "Kenapa marah, Kronar? Apa kau sedang mencariku?"

Kronar tersentak dan berbalik dengan cepat. Matanya membelalak saat melihat sosok pemuda yang paling dibencinya berdiri di depan, dengan senjata terikat di punggungnya.

"Kamu... Apakah kamu yang melakukan semua ini?!" teriak Kronar dengan marah, suaranya bergemuruh di antara tebing.

Lynx hanya berdiri dengan tenang, bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis. "Bagaimana menurutmu, Kronar?" jawabnya ringan sambil mengeluarkan kapak besar dari cincin penyimpanannya. Dengan satu gerakan santai, dia melemparkan kapak itu hingga menancap keras di tanah, hanya beberapa inci dari kaki Kronar.

"Kukembalikan senjatamu. Aku tidak suka melawan orang yang tidak bersenjata. Rasanya... terlalu mudah," lanjut Lynx, nadanya mengejek.

Kronar menggertakkan giginya, kemarahannya bercampur dengan ketakutan. "Ternyata benar! Kamu yang melakukan ini! Bagaimana caramu membawa para tahanan pergi tanpa kami sadari?!"

Salah satu perampok di dekatnya melangkah mundur, wajahnya pucat pasi. "Itu tidak mungkin... Dia seperti hantu! Tidak ada suara, tidak ada jejak! Bagaimana dia bisa menghilangkan mereka begitu saja?!"

"Dan senjata kita! Semua hilang!" tambah perampok lain, tubuhnya mulai bergetar.

"Jangan lupa obor juga!" seru seseorang dari belakang, matanya melotot ketakutan. "Semua obor mati bersamaan, bahkan api unggun pun padam! Ini sihir!"

Lynx tertawa kecil, suara tawanya ringan namun penuh ancaman. "Oh, aku tidak tahu kalau kalian begitu mudah terkejut. Kupikir kalian lebih tangguh dari ini."

"Dia... Dia penyihir!" teriak salah satu perampok, hampir menangis ketakutan.

"Diam!" bentak Kronar, meskipun nada suaranya terdengar tegang. Dia mencoba menjaga wibawanya di depan anak buahnya, namun Lynx bisa melihat jelas ketakutan yang tersirat di matanya.

Lynx memiringkan kepalanya, menatap Kronar dengan tajam. "Penyihir? Hm, Tidak kuduga kalian mengenal kata penyihir. Tapi mari kuberitahu sesuatu... Aku bukan penyihir. Aku adalah orang yang akan mengakhiri kalian semua."

Salah satu perampok yang lebih tua mendesah, wajahnya penuh keputusasaan. "Kita tidak mungkin menang melawan dia."

"Cukup!" teriak Kronar, meskipun gemetar. Dia menatap Lynx dengan kemarahan yang bercampur ketakutan. "Aku tidak peduli siapa kamu, Lynx! Kau pikir aku takut?! Kau hanya seorang diri melawan ratusan orangku!"

Lynx menyeringai, tatapannya menusuk. "Ratusan? Tidak ada artinya bagiku."

Kronar menggeram, menggenggam kapaknya yang masih tertancap di tanah. "Aku tidak akan kalah darimu! Kau akan menyesal telah melawan aku!"

Lynx mengeluarkan pedang terkuat dari cincin penyimpanannya. Pedang itu bersinar terang saat dia mengalirkan kekuatannya ke bilah tersebut. "Bagus," pikir Lynx, "Mereka semua berkumpul. Ini akan lebih mudah."

Langit tiba-tiba menjadi gelap, petir mulai menyambar-nyambar di langit. Para perampok yang melihat dan penduduk yang menunggu tidak jauh dari tempat itu mulai gemetar ketakutan.

"Apa yang dia lakukan?!" salah satu perampok berteriak, matanya membelalak panik.

Lynx mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, kedua tangannya menggenggam erat gagang pedang. Dia menyerap energi dari langit, mengalirkannya ke pedang hingga bilahnya bersinar terang, nyaris membakar.

"Dia akan membunuh kita semua!" jerit seorang perampok.

Kronar mencoba menepis ketakutannya. "Aku harus menyerangnya sekarang! Aku tidak bisa menunggu!" Dia berteriak, berlari dengan senjatanya terangkat tinggi, mencoba menyerang Lynx sebelum semuanya terlambat.

Namun Lynx hanya meliriknya sekilas."Dosa kalian tidak bisa dimaafkan. Musnahlah kalian semua." Dengan satu gerakan cepat, dia mengayunkan pedangnya yang kini terlihat besar dan berat. Gelombang energi dari pedang itu turun seperti badai, menghantam tanah dan menciptakan ledakan dahsyat. Tekanan energi membuat semua perampok tidak bisa bergerak.

Ledakan itu menghantam mereka tanpa ampun, meninggalkan bekas jalur yang panjang dan dalam di tanah. Saat debu perlahan menghilang, seluruh perampok, termasuk Kronar, lenyap tanpa bekas.

Lynx menurunkan pedangnya perlahan, matanya dingin menatap bekas medan pertempuran. Angin sepoi-sepoi membawa suara desahan terakhir para perampok, sebelum semuanya kembali sunyi.

